Kopi Pahit

Posted in Daily Journal, Headline News on May 3, 2012 by huangyouli

Segelas kopi pahit yang kental kembali tersaji menemani hari ini. Tugas menumpuk dan deadline yang semakin membuat adrenalin ini bergelora. Mampukah diri ini menyelesaikan semuanya? Aku tak tau apa yang akan menjadi penilaian atasanku kelak. Klien adalah sumber penghasilan bagi perusahaan kami dan sudah ada beberapa komplain dari mereka mengenai diriku. Aku sudah berusaha semampuku, namun tampaknya usaha terbaik diri ini masih belum cukup, aku harus berbuat lebih baik dari itu, doing my better best but how?

Derit suara printer, ketukan jemari pada keyboard dan sesekali dering ponsel menyemarakan pikiranku yang mulai mumet. Aku ingin kembali pada kesederhanaan hidup. Mengapa harus melalui fase-fase kebodohan masa lalu? Andai saja tidak ada jerat kebodohan masa lalu yang membekas dan merintangi langkah kehidupanku, mungkin aku sudah hidup bahagia dengan gaji seadanya. Namun realitanya, aku harus memiliki pendapatan minimal sekian juta per bulan untuk menutupi kebodohan itu. Aku belajar, aku harus merelakan hal ini sebagai pembelajaran dan pengalaman berharga. Aku juga belajar, bahwa tidak mungkin berharap ada pihak-pihak lain yang mau bertanggung jawab atas kebodohan ini.

Aku hanya dapat berdoa, untuk esok yang lebih baik dan keuletan untuk menempuh hari demi hari dengan penuh ucapan syukur dan pengharapan.
Aku percaya, suatu hari nanti semua belenggu dan rintangan ini akan membuahkan hasil yang manis bagi masa depanku. Dan aku juga mau belajar mengampuni orang-orang yang pernah berbuat jahat terhadapku di masa lalu, karena Tuhan pun telah mengampuni mereka.

Kepada siapapun yang membaca tulisanku ini, bersemangatlah meraih cita. Segala hambatan dan rintangan yang kau temui saat ini akan membuahkan hasil yang manis. Tetaplah berharap pada Sang Maha, karena Dia tau yang terbaik bagimu. Berikan usaha terbaikmu hari ini dan berusahalah untuk menjadi lebih baik lagi di hari esok. Good luck for your life.

The Chopsticks Philosophy

Posted in Daily Journal, Poetry and Art on February 23, 2012 by huangyouli

During our wedding preparation, a friend asked me about the reason of choosing chopsticks as our souvenir. Well, that is quite simple, I suppose.

We cannot use only a single chopstick; we should use a pair of chopsticks to equip us in eating. A single chopstick is only good for hair accessories; and it is definitely not the making purpose of it. Unlike Spoon and Fork, chopsticks are very are loyal to their significant one. They always stay together, side by side. Spoon can stand-alone; sometimes we use only spoon for eating without bringing fork along. While fork, it has an affair with knife in some occasions. Husband and wife should be like a pair of chopsticks, live together side by side and support each other to reach the maximum life purpose. Do not let selfishness interrupt the relationship and the sense of stand-alone break the bond between them. Do not let other parties to defeat your spouse and still your love for an irresponsible affair.

If I imply this philosophy to our wedding theme, I can say that we symbolize ourselves in the pair of chopsticks. I am nothing without my spouse and so is he without me. I shall be loyal to him and complete his life purpose as well as he shall be loyal to me and complete my life purpose. Side by side and always be together as the day God unites us in His Holy Covenant as man and wife. Side by side in striving for our future and reaching our maximum life purpose as the day God bless us as one family.

Simple Note Before Valentine’s Day : Love is….

Posted in Daily Journal, Headline News, Poetry and Art on February 9, 2012 by huangyouli

Let me share what I read in my FB news feed, a friend just updated her status :

Love is..
Not how you listen, but how you understand
Not what you see, but how you feel.
Not how you to forget, but how you to forgive.

Okay, at first glance I was stunned to read the mesmerizing sentences about love, but after the deep contemplation I realize those sentences were fine-blend in harsh reality.

We need to communicate our love in the simple language so our partner will not only listen to our feeling but understand how strong the love bonds us to them that make us willing to accept every weakness as a common usual thing. We need love not to listen to what our partner talks about, but to understand the meaning beneath the speech.

Love is not the thing that rose when you see your gorgeous partner. No, we may call that kind of thing as lust. Love is the feeling that burns your heart and desire steadily towards your partner even though your partner may be in the worst physical appearance. Love is the feeling that makes you accept your partner in any kind of conditions. Love is loyal and patient. Love is humble and not arrogant. Love is not selfish. Love is kind and gentle. Love is unconditional acceptance. Love is care and protection.

People may hurt you in the past with unforgettable pain, but love is the only thing that makes you forgive their fault. Only love that makes a man stays loyal to his wife. Only love that makes the abandoned wife accepts her strayed husband back. Only love that makes The Father welcomes the prodigal child return to their home. Only love that makes Jesus Christ exchanged our sins with His Life on the cross. Only love and there is no other thing.

Yes, love is beyond all things, love is the very foundation of everything; moreover, love brings unity among humankind. Love is the simplest language of human. Do not declare your love only on Valentine’s Day, but let us cherish our love towards one another in everyday. It is good to tell people that you love them, but it is better to show them how much you love them in your daily activities.

Happy loving day, everyone!

Tanaman Hias di Mall

Posted in Daily Journal, Poetry and Art on January 13, 2012 by huangyouli

Hanya bernaung di label harga lima ribu rupiah saja. Tidak terlihat mewah, hanya sebuah tanaman kaktus mini dengan duri secukupnya. Mini kaktus ini terletak manis di etalase toko ini. Aku ingin membelinya namun aku tidak yakin dapat memeliharanya. Melihat mini kaktus itu membuatku teringat akan beberapa orang yang cukup unik namun sangat berharga dan salah satunya adalah dia.

Tidak semarak bila dibandingkan dengan barang-barang lainnya yang dipajang di etalase mall namun keunikannya terpancar dari kesederhanaannya yang bersahaja. Demikian pula dengan tokoh artikel ini, tidak tergolong rupawan namun keberadaannya bagaikan garam dalam sepanci sup. Tidak terlalu diperhatikan keadaannya, namun sangat berpengaruh bila ketiadaan menyelubunginya.

Di kantor ini dia kerap kali menampung curahan amarah dari atasan. Ada saja yang menjadi topik pelampiasan emosi dari atasan ini, walau bila kita cermati dia sudah berusaha memberikan yang terbaik dari dirinya yang penuh keterbatasan. Usianya sudah tergolong cukup senior, namun keadaanlah yang memaksanya untuk tetap bertahan di kantor yang kurang manusiawi ini.

Mengantar dan mengambil barang-barang berat namun dia tidak boleh mengklaim biaya kuli angkut sedikitpun. Sering mendapat cacian karena dia terjebak kemacetan ibukota, entah menggunakan perhitungan darimana, namun dia harus berkeliling Jakarta dalam waktu satu hari dan semua tugas-tugas harus selesai tanpa ada cacat sedikitpun. Bila terjadi kesalahan, maka kalimat-kalimat yang pedas akan menjadi konsumsi dirinya padahal aku meragukan apakah atasannya mengetahui orang ini belum makan seharian demi memenuhi semua tuntutan tugas yang sedikit kurang masuk logika. Jam kerjanya pun tidak seperti jam kerja pegawai pada umumnya, dia dapat pulang tepat waktu namun bila atasan berkehendak maka tengah malam pun dia masih berkutat mengurusi pekerjaannya.

Tokoh cerita artikel ini cukup sabar dan hanya dapat berdoa sambil tersenyum menghadapi segala tantangan hidup ini. Dia tidak dapat berhenti kerja karena hanya dia satu-satunya yang bekerja sementara istrinya sering masuk rumah sakit dan mereka tidak memiliki seorang anakpun.

Saat aku melakukan wawancara mengenai kehidupan dan karirnya, tokoh ini hanya dapat berkata lirih, “Semua ada waktunya, aku hanya dapat berusaha bertahan hidup. Aku percaya Tuhan tidak selamanya membiarkan umatNya ditindas. Jika ada kesempatan, aku ingin keluar dari kantor ini, punya usaha sendiri tanpa harus menikmati omelan dari orang seperti nyonya besar. Aku harus dapat bertahan disini walau ada beberapa orang yang sangat ingin membuatku mengundurkan diri dari kantor ini.”

Ucapan sederhana yang cukup menemplak hati dan kesadaranku.

Sudahkah aku sabar seperti itu?
Setiap menghadapi tantangan dari rekan kerja yang menyebalkan, aku hanya dapat bekerja sambil mengeluh. Setiap diharuskan melepaskan waktu personal demi mengerjakan lembur, aku hanya dapat bekerja sambil menahan marah. Aku tidak mengerjakan semuanya itu dengan kasih, tidak dengan maksimal, apalagi dengan tersenyum seperti orang ini.

Sudahkah aku berserah pada Tuhan seperti orang ini?
Saat aku mengetahui ada yang mendapat promosi dan kenaikan gaji yang di luar logika, aku hanya dapat meradang dan berpikir keras atas ketidak adilan ini. Aku tidak mengoptimalkan kinerjaku, malah aku merasakan kemalasan semakin menjalari diri ini.

Sudahkah aku menjadi pembawa damai bagi komunitasku?
Saat aku melihat ketidak adilan menimpa tokoh cerita artikel ini, dalam hati aku sangat tidak terima, namun dia malah menenangkan diriku sambil mengingatkan akan keadilan Tuhan. Ketidak adilan demi ketidak adilan terus menimpa tokoh cerita artikel ini, namun dia tidak berontak sedikitpun. Bila aku menjadi dirinya, mungkin aku sudah mengundurkan diri dan mencari mata pencaharian yang baru.

Ya, aku banyak belajar dari tokoh ini. Melalui kesederhanaannya dalam menikmati segala penderitaan hidup, aku belajar untuk senantiasa mengucap syukur dan tekun berusaha. Dan bila aku tidak dapat bertumbuh ataupun membuahkan karya di tempat ini, maka aku akan berkelana ke tempat dimana aku dapat diterima sebagai bagian dari komunitas dan memberkati komunitas tersebut dengan keberadaan diri ini. Aku berjanji akan senantiasa mengendalikan emosi dan perasaan agar kelak aku pun dapat memberi teladan bagi orang lain, sama seperti tanaman hias di mall yang senantiasa tampil segar walau dilingkupi udara AC yang dingin.

Trip to Sorong, West Papua 11-14 Nov 2011

Posted in Headline News, QHSE Stuffs on November 22, 2011 by huangyouli

under the blue sky of Sorong

The Tickets

My Plane to Sorong

Sunset in Sorong

a peek from the aircraft window

Lunch : Fried Rice + 2 pieces of Nugget

Happy Birthday

Posted in Birthday on November 22, 2011 by huangyouli

God bless you abundantly in your new age : Rendy Kurnia, Sofie, Naldo, Ko Amen, David Ketua, Maria Lim, Fe, Nita, Hotma, Novi, Emma, Joko Wangkono, Yulia Permadi, Evert Kornelis, Pau Pau, Joy Lardo, Rina, Ai Ling, Vivi Lasmita, Ceinny, Siw Fung, Aban.

28 Oct – 07 Nov 2011

Posted in Birthday on November 7, 2011 by huangyouli

Happy Birthday to Shinta, Emmi, Lia Hanavi, Arnoldus, Linda M, Inti Tan, Johan Limbunan, Angelica Lianawati, Mirma Respati, Saul Kelyombar, Santy Novita and many more that I can not mention one by one. God bless you all abundantly.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.